Jumat, 02 November 2012

Meraih untung dari mengolah ban bekas menjadi barang bernilai


Ban bekas bagi sebagian orang merupakan limbah yang tidak layak untuk digunakan lagi tapi ditangan sutrimo pria berumur 45 tahun asal pati jawa tengah ini bisa disulap menjadi menjadi barang yang bernilai tinggi, selain itu dari sebuah ban bekas tersebut bisa ia manfaatkan menjadi barang-barang yang bisa dipergunakan lagi.
“ saya merintis usaha ini sejak tahun 1994, kebetulan saya membuka usaha ini hanya sekedar untuk untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena semakin meningkat dan permintaan kian bertambah akhirnya usaha ini saya kembangkan lebih besar lagi, dengan dibantu 4 karyawaan saat ini”, ujar sutrimo.
Usaha yang selama ini ia tekuni sangat berbuah manis, karena peluang usaha ban bekas yang terletak di jalan manggis kelurahan panorama ini sangatlah menjanjikan dari sekian banyak ban yang ada pasti bisa digunakan kembali, seperti halnya ban bekas yang ada dapat dibentuk kursi, meja, Bak (Tempat penampungan air), pot bunga, kawat, sendal, ayunan, tempat sampah, tali derek untuk menimba air dan tali (Per)  bahan dasar untuk pembuatan tempat duduk seperti sofa.
“ Dalam dua hari saya bisa membuat kursi dan meja satu paket sesuai pesanan, untuk nilai jual sangat beragam karena kursi ini ditentukan dengan bentuk ukiran dan pewarnaan serta tingkat kerumitan pembuataannya, contohnya untuk sebuah kursi mampu mencapai Rp.100 ribu, biasanya untuk pesanan kursi dan meja satu set harganya mencapai seperti Rp.500 ribu hingga Rp.800 ribu, pesanan kursi biasanya akan semakin tinggi bila mendekati hari raya lebaran, pesanan yang ada akan berdatangan untuk segera dibuatkan. selain itu bukan ban saja diminati melainkan kawat dari ban  tersebut, karena  pemburu babi sering memesan untuk membuat perangkap dari kawat tersebut, untuk harga kawat mencapai Rp.30 ribu untuk satu gulungnya” ujarnya
Permintaan barang yang dibuat sutrimo saat ini sering diminati karena kualitas barang yang dibeli tidak gampang rusak karena bahan dasar ban terbilang sangat awet, sampai saat ini penjualan produk barangnya sudah didistribusikan ke ruko furniture, mebel dan pesanan dari luar kota bengkulu seperti curup, kepahiang, manna hingga linggau.
“ seperti saat ini musim penghujan mulai tiba, kebanyakan bak air jadi incaran ibu-ibu karena bak sangat bermanfaat untuk menampung air hujan dibandingkan memakai baskom berbahan plastik yang rawan pecah, untuk bak air yang saya buat hanya seharga Rp.60 ribu dijamin tidak mudah bocor ataupun pecah” tambahnya lagi.
Sutrimo sendiri bisa meraup untung hingga jutaan rupiah dalam sebulan untuk keuntungan bisa mencapai Rp.20 juta rupiah, dengan bermodalkan ban bekas yang ia dapat dari penadah, tukang bengkel, ataupun dari hasil pencarian sendiri, dalam sehari saja bisa 10 ban bekas yang datang ketempatnya dengan ukuran yang beragam mulai dari ban fuso, ban mobil, ban motor hingga sepeda semua bisa ia olah dan terpakai.
Untuk harga sebuah ban, sutrimo membelinya dengan harga Rp.20 ribu rupiah untuk ukuran paling besar, kemudian dari ban tersebut dapat dibentuk menjadi sedemikian rupa hingga menjadi barang yang bernilai, dimulai dari memotong, membentuk, mengukir, melipat hingga pengecatan semua dilakukannya dengan sangat tekun.
“saat ini memang usaha yang saya tempuh sangat menjanjikan, dengan modal ban bekas yang ada bisa saya olah dan terpakai, akan tetapi minimnya tenaga kerja yang benar-benar mau menekuni untuk membuat kerajinan ini sangat susah, karena kebanyakan tidak ada yang mau betul-betul belajar, sebenarnya untuk membuat kerajian dari ban ini tidak susah asalkan ada kemauan, kebanyakan anak-anak muda sekarang sudah jarang yang mau belajar apalagi ingin mengetahui bagaimana pembuatan kursi dari ban ini, mungkin pengaruh zaman sekarang tidak seperti saya dahulu ketika merintis usaha ini. sampai sekarang  walaupun saya sebagai pemilik usaha, saya tetap  turut membantu bila ada pesanan apalagi dalam jumlah banyak, maka dari itu dari karyawan yang ada saat ini saya hanya mengandalkan bantuan mereka bila sedang produksi  ditambah dengan anak saya juga yang ikut membantu karena kurangnya tenaga kerja” kata sutrimo.(Mg-AMD)

2 komentar: