Jumat, 09 Desember 2011

TEORI KOMUNIKASI DALAM PENELITIAN




A.    POLA- POLA  HUBUNGAN INTERAKSI
 Hubungan bukanlah entitas statis yang tidak pernah berubah, kita terus mengubah apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan berdasarkan reaksi orang lain dan seiring waktu hubungan tersebut berjalan. Para akademis komunikasi yang melakukan penelitian tentang teori ini dikenal dengan sebutan Palo Alto Group. Teori ini menjelaskan tentang hubungan –hubungan yang timbul setelah kita melakukan interkasi, jika kita menerima suatu pesan maka pada saat bersamaan kita juga akan memperoleh pesan hubungan yang berkaitan dari pesan tersebut. Sebagai contoh; jika dosen anda mengatakan bahwa  dalam waktu dekat ini kita akan mengadakan ujian, maka pesan hubungan yang dibangun bisa ia ucapkan seperti ; “ saya ingin peningkatan nilai kalian dari ujian sebelumnya maka bacalah materi-materi yang sudah saya beri”.
Selain itu  teori ini juga mengartikan hubungan dengan interaksi yang mereka lakukan. Apabila kita berinteraksi dengan teman  atau rekan kerja kita maka kita akan selalu menciptakan sebuah dugaan atas apa yang ia bicarakan atau ia lakukan. Yang akan menimbulkan sebuah peratutan yang tak tertulis berlandaskan hubungan tersebut yang cenderung akan kita patuhi bersama, namun peraturan-peraturan tersebut akan berubah seiring dengan perubahan pada pola interaksi nantinya. Dan juga satuan dasar dari hubungan bukanlah seseorang atau dua orang, tetapi interaksi dari  perilaku yang merespon prilaku orang lain.
Ada dua tipe pola yang menggambarkan gagasan ini;
1)      Hubungan simetris  (symmetrical relation) Jika dua orang saling merespon dengan cara yang sama. Ex; jika seseorang merespon interaksi orang pertama dengan senyuman pertemanan dan orang kedua juga merespon yang sama maka akan terbangun rasa pertemanan dan persaudaraan.
2)      Pelengkapan (complementary) dalam hubungan ini, pelaku komunikasi merespon dengan cara yang berlawanan, ketika seseorang bersifat  menguasai yang lainnya mematuhi, ketika seseorang bersifat mendidik yang lain diam, dan ketika seseorang menjaga dan yang lainnya menerima.
B.     TEORI PENETRASI SOSIAL
Teori Penetrasi Sosial dipopulerkan oleh Irwin Altman & Dalmas Taylor. Teori penetrasi sosial secara umum membahas tentang bagaimana proses komunikasi interpersonal. Di sini dijelaskan bagaimana dalam proses berhubungan dengan orang lain, terjadi berbagai proses gradual, di mana terjadi semacam proses adaptasi di antara keduanya, teori ini juga mengindentifikasikan proses peningkatan pengungkapan dan keintiman dalam sebuah hubungan.
Altman dan Taylor mengibaratkan manusia seperti bawang merah. Maksudnya adalah pada hakikatnya manusia memiliki beberapa layer atau lapisan kepribadian. Jika kita mengupas kulit terluar bawang, maka kita akan menemukan lapisan kulit yang lainnya. Begitu pula kepribadian manusia.
Lapisan kulit terluar dari kepribadian manusia adalah apa-apa yang terbuka bagi publik, apa yang biasa kita perlihatkan kepada orang lain secara umum, tidak ditutup-tutupi. Dan jika kita mampu melihat lapisan yang sedikit lebih dalam lagi, maka di sana ada lapisan yang tidak terbuka bagi semua orang, lapisan kepribadian yang lebih bersifat semiprivate. Lapisan ini biasanya hanya terbuka bagi orang-orang tertentu saja, orang terdekat misalnya.
Dan lapisan yang paling dalam adalah wilayah private, di mana di dalamnya terdapat nilai-nilai, konsep diri, konflik-konflik yang belum terselesaikan, emosi yang terpendam, dan semacamnya. Lapisan ini tidak terlihat oleh dunia luar, oleh siapapun, bahkan dari kekasih, orang tua, atau orang terdekat manapun. Akan tetapi lapisan ini adalah yang paling berdampak atau paling berperan dalam kehidupan seseorang. Selain itu taraf kedekatan hubungan seseorang dapat dilihat dari sini.
Dalam perspektif teori penetrasi sosial, Altman dan Taylor menjelaskan beberapa penjabaran sebagai berikut:
1)   Kita lebih sering dan lebih cepat akrab dalam hal pertukaran pada lapisan terluar dari diri kita. Kita lebih mudah membicarakan atau ngobrol tentang hal-hal yang kurang penting dalam diri kita kepada orang lain, daripada membicarakan tentang hal-hal yang lebih bersifat pribadi dan personal.
2)   Keterbukaan-diri (self disclosure) bersifat resiprokal (timbal-balik), terutama pada tahap awal dalam suatu hubungan.
3)   Penetrasi akan cepat di awal akan tetapi akan semakin berkurang ketika semakin masuk ke dalam lapisan yang makin dalam. Tidak ada istilah “langsung akrab”. Keakraban itu semuanya membutuhkan suatu proses yang panjang.
4)   Depenetrasi adalah proses yang bertahap dengan semakin memudar. Maksudnya adalah ketika suatu hubungan tidak berjalan lancar, maka keduanya akan berusaha semakin menjauh. Akan tetapi proses ini tidak bersifat eksplosif atau meledak secara sekaligus, tapi lebih bersifat bertahap. Semuanya bertahap, dan semakin memudar.
Dalam teori penetrasi sosial, kedalaman suatu hubungan adalah penting. Tapi, keluasan ternyata juga sama pentingnya. Maksudnya adalah mungkin dalam beberapa hal tertentu yang bersifat pribadi kita bisa sangat terbuka kepada seseorang yang dekat dengan kita. Akan tetapi bukan berarti juga kita dapat membuka diri dalam hal pribadi yang lainnya. Mungkin kita bisa terbuka dalam urusan asmara, namun kita tidak dapat terbuka dalam urusan pengalaman di masa lalu. Atau yang lainnya.
C.    TEORI DIALEKTIKA RELASIONAL.
Teori dialektika relasional merupakan sebuah teori komunikasi yang menyatakan bahwa hidup berhubungan dicirikan oleh ketegangan-ketegangan atau konflik antar individu. Konflik tersebut terjadi ketika seseorang mencoba memaksakan keinginannya satu terhadap yang lain. Selain itu teori ini juga menggambarkan hidup hubungan sebagai kemajuan dan pergerakan yang konstan. Orang-orang yang terlibat di dalam hubungan terus merasakan dorongan dan tarikan dari keinginan-keinginan yang bertolak belakang di dalam sebuah bagian hidup berhubungan.
Teori ini memiliki empat asumsi pokok mengenai hidup berhubungan meliputi;
1)    Hubungan tidak bersifat linier. Asumsi ini berpendapat hubungan manusia terdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif.
2)    Hidup berhubungan ditandai dengan adanya perubahan. Proses atau perubahan suatu hubungan merujuk pada pergerakan kuantitatif dan kulaitatif sejalan dengan waktu dan kontraksi-kontraksi yang terjadi, di seputar mana suatu hubungan dikelola (Baxter dan Montgomery, 1996).
3)    Kontradiksi merupakan fakta fundamental dalam hidup berhubungan. Kontradiksi atau ketegangan terjadi antara dua hal yang berlawanan tidak pernah hilang dan tidak pernah berhenti menciptakan ketegangan.
4)    Komunikasi sangat penting dalam mengelola dan menegosiasikan kontradiksi-kontradiksi dalam hubungan. Dalam perspektif dialektika relasional, actor-aktor sosial memberikan kahidupan melalui praktek-praktek komunikasi mereka kepada kontradiksi-kontradiksi yang mengelola hubungan mereka.

Elemen-elemen dasar dalam perspektif teori  Dialektika yakni:
1)      Totalitas (totality), mengakui adanya saling ketergantungan antara orang-orang dalam sebuah hubungan.
2)      kontradiksi (contradiction), merujuk pada oposisi – dua elemen yang bertentangan.
3)      pergerakan (motion), merujuk pada sifat berproses dan hubungan dan perubahan yang terjadi pada hubungan itu seiring dengan berjalannya waktu.
4)      praksis (praxis), merujuk pada kapasitas manusia sebagai pembuat pilihan.
Teori ini memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihannya yakni memiliki unsur  heurisme (.Teori ini memberikan pandangan yang luas terhadap hubungan dan telah menjadi bahan lintas bidang ilmu). Sedangkan, kekurangannya terletak pada kemungkinan pengujiannya dalam mengatasi berbagai hubungan dan sifatnya yang terlalu parsimoni.
Respons yang diterima untuk teori ini yakni; Walaupun ketegangan dialektika merupakan hal yang berlangsung terus-menerus, orang melakukan usaha untuk mengelola hal tersebut. Beberapa penelitian (Jameson, 2004), mengamati kesopanan sebagai metode umum untuk mengelola ketegangan dialektis. Baxter (1988) mengidentifikasi empat strategi spesifik untuk tujuan ini, yaitu:
1)      Pergantian bersiklus (cyclic alternation), adalah respons untuk menghadapi ketegangan dialektis yang merujuk pada perubahan sejalan dengan waktu.
2)      Segmentasi (segmentation), adalah respons untuk menghadapi ketegangan dialektis yang merujuk pada perubahan akibat konteks.
3)      Seleksi (selection), adalah respons untuk menghadapi ketegangan dilektis yang merujuk pada pemberian prioritas pada oposisi-oposisi yang ada.
4)      Integrasi (integration), adalah respons untuk menghadapi ketegangan dialektis yang merujuk pada membuat sintesis oposisi, hal ini terdiri atas tiga strategi, yaitu:
a)      Membingkai ulang (reframing), merujuk pada mentransformasi dialektika yang ada dengan cara tertentu sehingga dialektika itu seperti tidak memiliki oposisi.
b)      Menetralisasi (neutralizing), merujuk pada substrategi dari integrasi; kompromi tehadap dua oposisi.
c)      Mendiskualifikasi (disqualifying), merujuk pada penetralan dialektika dengan memberikan penetralan dialektika dengan memberikan pengecualian pada beberapa isu dari pola umum



 Thank you udah berkunjung ke Blog Sebakul...
By:Andra Itawwa









DAFTAR PUSTAKA
Littlejohn, Stephen W., & Foss, Karen A., (2009), Theories of Human Communication, terjemahan: Salemba Humanika : Jakarta.
Teori_dialektika_relasional. From http//id.wikipedia.org/wiki/Teori_dialektika_relasional
Teori_dialektika_relasional. From http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_dialektika_relasional

Teori Penetrasi Sosial  virtual yearry. From http://yearrypanji.wordpress.com/2008/03/29/teori-penetrasi-sosial/


0 komentar:

Posting Komentar